Bagaimana Mengendalikan Emosi Saat Menghadapi Anak?

Written by Dagum on June 17, 2020 in Beberapa langkah untuk menjadi orangtua yang sigap with no comments.

Bayangkan saja bagaimana menggemaskannya anak saat masih bayi dulu. Semakin sering dilatih, Anda bisa menguasai diri dan membuat anak mengerti bahwa perilakunya salah. Jika membiarkan hal ini terus terjadi, anak akan bingung mana yang diperbolehkan orangtua dan mana yang akan dilarang. Saat melihat anak berulah, kita mungkin jadi naik pitam dan akhirnya berteriak atau membentak. Kita bisa menghindari luapan emosi ini dengan berbagai cara untuk membuat diri serileks mungkin.

Cara  mengkontrol emosi kepada anak

Keterikatan itu membuat anak-anak lebih menerima nilai-nilai dan pengajaran dari orang tua, sebagaimana dikutip melalui laman Harvard. Cara mengatasi kemarahan anak yang emosional dan meledak-ledak dapat dilakukan oleh orang tua dengan memberikan kasih sayang, bukan dengan kekerasan fisik. Setelah itu, beritahu padanya bahwa apa yang sudah ia lakukan adalah hal yang salah. Beri waktu pada anak setidaknya 5 sampai 10 menit untuk menyendiri atau pergi ke kamar mandi. Setelah batas waktu berakhir, minta ia untuk meminta maaf pada anggota keluarga, lalu merapikan apa yang sudah ia rusak.

Dari kesigapan itu, pesantren telah berhasil menjadi pendidikan various tanpa menanggalkan identitasnya. Sultan Mahmud II sadar bahwa pendidikan madrasah tradisional ini tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman abad kesembilan belas. Sultan Mahmud II mengeluarkan perintah supaya anak sampai umur dewasa jangan dihalangi masuk madrasah. Selain itu Sultan Mahmud II juga mengirimkan siswa-siswa ke Eropa untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan teknologi langsung dari sumber pengembangan.

Dia menjelaskan tentang bronkitis dan interaksi pembuluh dalam tubuh dengan udara dan darah. Para pejabat istana dan khalifah memperkerjakan para pendidik yang disebut muaddib di lingkungan istana. Syalabi mengatakan mendidik para calon raja adalah pekerjaan yang sangat digemari.

Hal ini bertujuan untuk mengajarkan anak agar mengidentifikasi tanda-tanda kemarahan dan menemukan cara yang tenang dan produktif sebelum melakukan tindakan. Demikianlah beberapa cara mengendalikan emosi yang dapat dilakukan untuk mengatasi emosi atau kemarahan. Kini Anda dapat belajar untuk mengendalikan emosi dengan menerapkan langkah-langkah di atas. Tak hanya itu, memberikan hukuman fisik juga akan membuat orang tua seakan ‘ketagihan’ untuk memberi si hukuman di kemudian hari.

Kesehatan serta psikologis si kecil akan berkembang dengan baik, tanpa tekanan dan trauma. Penting bagi Ibu untuk membuat komitmen pada diri sendiri untuk menguasai cara menahan emosi pada anak. Tanamkan pada pikiran bawah sadar Ibu untuk tidak lagi melampiaskan emosi pada anak.

Tidak ada arahan atau pedoman untuk membantu kita mengetahui perasaan kita selama pandemi. Tidak ada cara yang benar atau salah untuk membuat suasana saat ini jadi lebih nyaman. Baik anak-anak maupun orang dewasa, mengalami berbagai macam emosi saat kita berjuang untuk mengatasi COVID-19 dan pengaruhnya pada cara hidup normal kita. Saat menghadapi kemarahan anak-anak, orang tua sebaiknya membungkam ‘bel alarm’ yang berbunyi di dalam kepala. Markham melatih orang tua untuk menekan ‘tombol jeda’ sebelum mengambil tindakan apa pun, bahkan di hadapan anak yang berteriak. Tarik napas sejenak, agar lebih tenang sebelum menghadapi kemarahan anak.

Mari mengatasi marah pada anak dengan cara yang sederhana dan tidak menyakiti hati anak. Cara ketiga, yang masih tidak jauh berbeda dengan cara kedua, adalah coba untuk mengekspesikan kemarahan dengan cara yang berbeda. dr. Kevin Adrian dari Alodokter, seperti dilansir The Asianparent Indonesia, mengatakan bahwa seorang ibu sebaiknya menenangkan diri dulu sebelum berkata apapun terhadap anak. Setelah merasa tenang, barulah ibu bisa mengekspresikan marahnya dengan cara yang tetap tegas tapi tidak menggunakan bahasa yang kasar terhadap anak. Apapun kesalahan yang dilakukan anak dan seberapa besar pun rasa marah Mama, hindari melakukan hukuman fisik pada anak.

Comments are closed.